:: Informasi
 Jdwl Penerbangan
 Jadwal Kedatangan
 Jadwal Keberangkatan
 Layanan Informasi
   » Hotel
   » Jadwal Kereta Api
   » Rumah Sakit
   » Telepon Penting
   » Waktu
 Wisata
 Potensi Daerah
 Saran Kritik

:: POLLING
Jasa Airlines manakah yang anda sukai?
Garuda
Lion
Sriwijaya
Air Asia
Batavia
Silk Air
Linus Airways
Pelita
Wings Air
Riau Airlines


| Home| Kantor Airlines| Forum| Peta|

POTENSI DAERAH
Sebagai bekas wilayah pusat Kerajaan Sriwijaya, sebuah kerajaan penganut agama Budha terbesar di dunia. Sumatera Selatan banyak memiliki benda-benda dan tempat-tempat bersejarah yang menarik untuk dijadikan Objek Wisata. Hal tersebut didukung pula oleh paling sedikit terdapat 139 objek wisata yang tersebar di seluruh Wilayah. Beberapa tempat paling banyak dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing antara lain adalah Danau Ranau yang terletak di Kabupaten OKU, Pegunungan Dempo yang terletak di Kaki Gunung Dempo, Kota Pagar Alam dan Air Terjun Curup Tenang di Kabupaten Muara Enim.

Ratusan lembaga telah memakai nama Sriwijaya. Mulai dari instansi militer, yayasan sosial, toko, universitas, koran, usaha travel, angkutan umum, pabrik pupuk, jalan, sampai dengan hotel, semuanya menempelkan nama kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara itu. Barangkali para pemberi nama memiliki harapan serupa, mewarisi spirit kebesaran Sriwijaya.

Namun, apakah kebesaran Sriwijaya benar-benar memberikan inspirasi bagi masyarakat zaman sekarang?

Sebagian besar masyarakat di Palembang, Sumatera Selatan, yang diduga pernah menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya, justru menyangsikannya. Alasannya, mereka kesulitan melacak sejarah dan nilai-nilai kebesaran Sriwijaya, akibat keterputusan sejarah.

Tidak banyak lagi yang bisa diwarisi dari kebesaran Sriwijaya sekarang ini, bahkan sebagian besar generasi muda sudah tidak lagi memahami sejarah kerajaan besar yang pernah tumbuh di bumi Sumatera itu. Pelabelan nama Sriwijaya cenderung menjadi kelatahan massal, tanpa pendalaman akan nilai-nilai di dalamnya.

"Saya hanya tahu sedikit tentang Sriwijaya dari buku pelajaran waktu sekolah dulu. Itu pun sekarang sudah banyak yang lupa. Di kampus juga tidak ada buku-buku tentang Sriwijaya," tutur Yudhis (23), mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang.

Menurut budayawan dan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) Djohan Hanifiah, kondisi tersebut terjadi karena sejarah kejayaan Sriwijaya pada abad ke-7 sampai 13 Masehi terputus dan tidak dilanjutkan oleh sejarah berikutnya.

Ensiklopedi Nasional Indonesia mencatat, Kerajaan Sriwijaya ditundukkan Majapahit yang berpusat di Mojokerto, Jawa Timur, pada tahun 1377. Sejak itu hingga sekitar abad ke-16 Masehi, Palembang dan sekitarnya praktis menjadi daerah tidak bertuan yang dijadikan sarang gerombolan perompak dari China.

Para perompak China yang agresif dan nekat menguasai jalur-jalur transportasi sungai dan laut, yang saat itu merupakan jalur perdagangan internasional oleh Sriwijaya.

Mereka beranak pinak, membentuk koloni tersendiri, memutus tradisi dan nilai-nilai yang berkembang di tanah leluhur bangsa China, dan sebaliknya menanamkan kehidupan budaya khas perompak yang berangasan.

Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwanti, mengutarakan, sisa-sia kekuasaan perompak China sekitar 200 tahun itu dapat diamati pada peninggalan Kampung Kapiten di Kelurahan Tujuh Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang. Tugu prasasti di kampung itu menunjukkan pemujaan kepada Dewa Samudra, sebagai peringatan adanya komunitas China yang menetap di Palembang. Keganasan para perompak itu berakhir setelah Panglima Perang Chengho yang diutus penguasa China datang dan memerangi mereka.

Meski kekuasaan perompak China berakhir, tetapi kebesaran Sriwijaya telanjur terpuruk dan sulit dibangkitkan lagi. Pusat studi agama Buddha dan bahasa Sanskerta yang masyhur dengan lebih dari 1.000 pendeta Buddha, tenggelam bersama ajaran-ajarannya. Kedigdayaan armada maritim dan pergaulan kerajaan besar itu dalam peta perdagangan internasional ikut pupus. Tradisi seni budaya bernuansa Buddha dan Hindu pun tidak berlanjut pada zaman berikutnya.

KERAJAAN Palembang Darussalam yang tumbuh sekitar abad ke-16 sampai tahun 1851, juga tidak meneruskan kebesaran Sriwijaya. Kerajaan ini membangun tradisinya sendiri yang berakar pada spirit Islam yang dipengaruhi Kerajaan Demak, Jawa Tengah.

Kekuasaan Belanda yang merasuki daerah Palembang sejak awal abad ke-18 sampai dengan pertengahan abad ke-20 Masehi lebih bercorak Kristiani, dan menekankan perdagangan untuk mengembangkan wilayah jajahan. Kondisi itu semakin menjauhkan kemegahan Sriwijaya dari kesadaran generasi-generasi berikutnya.

"Kebesaran Sriwijaya benar- benar terputus oleh kekuasaan Kerajaan Palembang Darussalam dan Belanda, yang membangun budaya jauh berbeda," papar Djohan Hanifiah. "Beberapa candi dan peninggalan Sriwijaya sempat dihancurkan dan dikubur dalam tanah dengan alasan teologis. Estetika, ilmu pengetahuan, dan seni yang berkembang pada masa Sriwijaya tidak lagi tumbuh pada masa berikutnya sampai sekarang."

Thontowi, pengurus Dewan Kesenian Palembang yang juga menjadi Staf Humas Pemerintah Provinsi Sumsel, menengarai adanya keterputusan sejarah, antara kebesaran Sriwijaya dengan budaya masyarakat Sumsel zaman sekarang.

Jeda waktu yang terjadi setelah Sriwijaya runtuh abad ke-14 sampai dengan abad ke-16 Masehi merupakan missing link (rantai terputus) yang memutus keterkaitan Sriwijaya dengan Kerajaan Palembang Darussalam, kolonialisasi Belanda, hingga pembangunan Kota Palembang modern.

Budaya masyarakat Palembang dan daerah sekitarnya, lanjut Thontowi, justru banyak dipengaruhi karakteristik kelompok masyarakat yang hidup berkebun di hutan-hutan. Mereka memiliki tradisi yang keras, karena hidup di tengah belantara dan terbiasa membawa senjata tajam untuk mengolah kebun dan menjaga diri. Sedikit banyak kebiasaan itu masih berlanjut hingga sekarang.

Djohan Hanafiah menilai, tradisi kekerasan menguat dalam kehidupan masyarakat Sumatera Selatan karena daerah ini dihuni lebih dari 20 suku. Masing-masing suku merasa setara dengan suku lain, dan senantiasa bersaing ketat untuk menguasai akses sosial, politik, dan ekonomi. Ketika komunikasi macet, kekerasan menjadi salah satu cara yang diandalkan untuk mempertahankan eksistensi dan dominasi antarsuku tersebut.

Sesungguhnya masih terdapat satu kebesaran Sriwijaya yang berusaha dihidupkan masyarakat Sumsel, yaitu kekuatan armada maritim dalam mengarungi samudra dan mengembangkan perdagangan internasional. Setidaknya semangat tersebut pernah mendorong Gubernur Sumsel periode 1998-2003, Rosihan Arsyad, pada tahun 2001 lalu untuk merekonstruksi replika kapal layar Sriwijaya.

Asnawi Hasan, staf di Bagian Industri dan Pariwisata Biro Ekonomi Pemprov Sumsel, mengungkapkan, studi bentuk kapal yang digunakan Sriwijaya untuk mengarungi Sungai Musi dan menjelajah benua pernah dilakukan tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Dalam kajiannya, kapal yang dibuat dari kayu onglen itu mirip dengan kapal Borobudur yang memakai layar dan bercadik. Panjangnya sekitar 24 meter dengan lebar kurang lebih enam meter.

Hanya saja, hingga Syahrial Oesman menjadi Gubernur Sumsel periode 2003-2008, rencana tersebut kandas karena terbentur masalah dana.