:: Informasi
 Jdwl Penerbangan
 Jadwal Kedatangan
 Jadwal Keberangkatan
 Layanan Informasi
   » Hotel
   » Jadwal Kereta Api
   » Rumah Sakit
   » Telepon Penting
   » Waktu
 Wisata
 Potensi Daerah
 Saran Kritik

:: POLLING
Jasa Airlines manakah yang anda sukai?
Garuda
Lion
Sriwijaya
Air Asia
Batavia
Silk Air
Linus Airways
Pelita
Wings Air
Riau Airlines


| Home| Kantor Airlines| Forum| Peta|

WISATA SUMATERA SELATAN
FirstPrev 1 [2]NextLast


 Jembatan Ampera

Jembatan Ampera dibangun di atas sungai Musi dengan panjang 1177 meter, lebar 22 meter, dan tinggi di atas permukaan air 11,5 meter. Dengan dana rampasan perang dari Pemerintah Jepang atas perintah Soekarno. Di bangun pada tahun 1962 dan selesai pada tahun 1964
Orang menyebutnya Jembatan AMPERA karena pemakaiannya secara resmi dilakukan disaat masa menegakkan orde baru yang sebelumnya bernama Jembatan Musi. Jembatan AMPERA berarti Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat.
Bagian tengah jembatan ini dulu dapat diangkat dan dilalui kapal yang tingginya maksimum 44,5 meter sedangkan bila tidak diangkat hanya 9 meter, namun pada saat ini mobilitas penduduk semakin tinggi dan jumlah kendaraan bertambah banyak serta dasar lain yang bersifat teknis maka tahun 1970an jembatan tersebut tidak dapat dinaikkan bagian tengahnya.

 Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)

Bangunan ini terletak di pusat kota tepatnya di depan Mesjid Agung. Lokasi tersebut dulunya basis pertempuran Lima Hari Lima Malam. Peletakan batu pertama dan pemancangan tiang bangunan pada tanggal 17 Agustus 1975 dan diresmikan pada tanggal 23 Februari 1988 oleh Menko Kesra Alamsyah Ratu Prawira Negara.
Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Sumatera Selatan ketika melawan kaum penjajah pada masa revolusi fisik yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang yang pecah pada tanggal 1 Januari 1947 yang melibatkan seluruh rakyat Palembang melawan Belanda.
Di dalam museum ini kita melihat berbagai jenis senjata yang dipergunakan dalam pertempuran tersebut termasuk berbagai dokumen perang dan benda-benda bersejarah lainnya.

 Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Bangunan yang dibangun kembali dan dibongkar habis dan memang sebelumnya merupakan lokasi Benteng Kuto Lamo berdiri keraton Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758).
Tahun 1821 keraton ini mendapat serangan dari Pemerintah Belanda dan pada tanggal 7 Oktober 1823 oleh Reguting Commisaris Belanda J.L Van Seven House diperintahkan bongkar habis untuk menghilangkan monumental Kesultanan Palembang dan membalas dendam atas dibakarnya loji Sungai Aur oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1811. Bangunan ini selesai tahun 1825 dan selanjutnya dijadikan komisariat Pemerintah Hindia Belanda untuk Sumatera Bagian Selatan sekaligus sebagai kantor Residen.
Pada tahun 1942-1945 gedung ini dikuasai oleh Jepang dan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI kembali dikuasai pemerintah RI, pada tahun 1949 gedung tersebut dijadikan kantor Toritorium II Sriwijaya dan tahun 1960-1974 digunakan sebagai Resimen Induk IV Sriwijaya.
Berdasarkan hasil penelitian dari Tim Arkeologi Nasional tahun 1988 ditemukan pondasi batubata dari Kuto Lamo di atas tumpukan balok-balok kayu yang terbakar di lokasi tersebut. Menurut perhitungan bangunan Benteng Kuto Lamo dimasa Sultan Mahmud Badaruddin I resmi ditempati pada hari Senin tanggal 29 September 1737 maka balok-balok itu umurnya lebih dari itu. Nama Museum Sultan Mahmud Badaruddin diabadikan untuk mengingat dan menghargai jasa-jasanya.

 Benteng Kuto Besak

Bangunan ini dibangun selama 17 tahun dimulai pada tahun 1780 dan diresmikan pemakaiannya pada hari Senin tanggal 21 Februari 1797. Pemrakarsa pembangunan benteng ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin (17244-1758) dan pembangunan dilaksanakan oleh Sultan Mahmud Badaruddin, sebagai pengawas pembangunan dipercayakan pada orang-orang Cina.
Benteng Kuto Besak mempunyai ukuran panjang 288,75 meter, lebar 183,75 meter dan tinggi 9,99 meter (30 kaki) serta tebal 1,99 meter (60 kaki). Di setiap sudutnya terdapat bastion yang terletak di sudut Barat Laut bentuknya berbeda dengan tiga bastion lainnya.
Tiga bastion yang sama tersebut merupakan ciri khas bastion benteng Kuto Besak, di sisi Timur dan Selatan dan Barat terdapat pintu masuk Benteng, pintu masuk gerbang utama yang menghadap sungai Musi disebut Lawang Kuto dan pintu masuk lainnya disebut Lawang Buritan.

 Rumah Rakit

Rumah Rakit merupakan rumah yang mengapung di atas Sungai Musi. Rumah ini terbuat dari kayu dan bambu dengan atap kajang (nipah), sirap dan belakangan ini dengan atap seng (bahan yang lebih ringan). Rumah Rakit adalah bentuk rumah yang tertua di Kota Palembang dan mungkin telah ada pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Dalam komik China seperti sejarah Dinasty Ming (1368-1643) buku 324, ditulis mengenai rumah rakit yang bentuknya tidak banyak berubah.
Pada zaman kesultanan Palembang, semua warga asing harus menetap di atas rakit termasuk warga Inggris, Spanyol, Belanda, Cina, Campa, Siam, bahkan kantor Dagang Belanda pertama di atas rakit lengkap dengan gudangnya. Rumah Rakit ini selain sebagai tempat tinggal juga berfungsi juga sebagai gudang industri kerajinan. Bahkan pada tahun 1900 an dibangun Rumah Sakit diatas rakit, karena dianggap mereka lebih sehat dan indah karena dapat melihat kehidupan di sepanjang Sungai Musi

 Rumah Limas

Rumah Limas merupakan prototipe rumah tradisional Palembang. Selain ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat-tingkat yang disebut Bengkilas dan hanya dipergunakan untuk kepentingan keluarga seperti hajatan. Para tamu biasanya diterima di teras atau lantai kedua.

Kebanyakan rumah limas luasnya mencapai 400 sampai 1000 meter persegi atau lebih, yang didirikan di atas tiang-tiang dari kayu unglen atau ulin yang kuat dan tahan air.

Dinding, pintu dan lantai umumnya terbuat dari kayu tembesu. Sedangkan untuk rangka digunakan kayu seru.

Setiap rumah terutama dinding dan pintu diberi ukiran. Saat ini rumah limas sudah mulai jarang dibangun karena biaya pembuatannya lebih besar dibandingkan membangun rumah biasa. Hampir di tiap pelosok kota terdapat rumah limas yang umumnya sudah tua, termasuk sebuah rumah limas di Museum Balaputra Dewa.


 Sungai Musi

Sungai Musi ini panjangnya 460 km membelah Propinsi Sumatera Selatan dari Timur ke Barat yang bercabang-cabang dengan delapan anak sungai besar yaitu : Sungai Komering, Ogan, Lematang, Kelingi, Lakitan Semangus, Rawas, dan Batanghari Leko. Karena ini Sumatera Selatan dikenal dengan julukan Batanghari Sembilan.
Mengapa dinamai Sungai Musi dan kapan nama tersebut mulai dipakai, tidak ada yang tahu pasti. Nama Musi ini terdapat di India, terjadinya hubungan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan di India atau nama tersebut diambil dari salah satu bahasa daerah Kayuagung \"Musi Beraerti Ikut\" Apakah Musi berarti aliran masih perlu penelitian lebih lanjut.
Apakah nama tersebut ada pada saat menelusuri Sungai Musi ini dapat melihat pemukiman penduduk seperti Rumah Rakit, PT Pusri, Pertamina, Daerah Bagus Kuning, Masjid Lawang Kidul, Masjid Ki Meorgan, Benteng Kuto Besak, Warung Terapung, dan kegiatan masyarakat di sepanjang Sungai Musi tersebut.
Di perairan Sungai Musi ini pada setiap hari jadi Kota Palembang dan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI diadakanla lomba Perahu Bidar dan Perahu Motor Hias. Masyarakat yang menyaksikan peristiwa tidak hanya masyarakat kota Palembang tetapi juga masyarakat luar kota Palembang bahkan wisatawan mancanegara.
Untuk menikamti keindahan Sungai Musi dapat menggunakan Ketek, Speed Boat, atau untuk rombongan dengan jumlah besar dapat menggunakan Kapal Wisata Segentar Alam dan Kapal Putri Kembang Dadar.

 Hutan Wisata Punti Kayu

Hutan Wisata Punti Kayu ini dapat dijangkau dengan kendaraan umum trayek km 12 yang letaknya sekitar 7 km dari pusat kotadengan luas sekitar 50ha. Sejak tahun 1938 telah ditetapkan sebagai hutan lindung.
Sejak tahun 1986 hasil kesepakatan antara propinsi Sumatera Selatan dan Departemen Kehutanan, Hutan Wisata Punti Kayu menjadi Hutan Wisata dengan menambah beberapa sarana wisata.
Taman Wisata Punti Kayu dibagi atas 4 wilayah yaitu :
  • Wilayah taman rekreasi yang mempunyai fasilitas :
    1. Kolam Renang
    2. Tempat berteduh
    3. Pos Keamanan dan Pos Informasi
    4. Kebun Binatang
    5. Sarana Olahraga
    6. Ruang Serbaguna
  • Wilayah hutan lindung
  • Wilayah Perkemahan
  • Wilayah danau dan rawa


 Pulau Kemaro

Di tengah Sungai Musi terdapat sebuah pulau bernama Pulau Kemaro. Nama tersebut berarti pulau yang tidak pernah tergenang air, walaupun air pasang besar, pulau tersebut tidak akan kebanjiran dan akan terlihat dari kejauhan terapung-apung di atas perairan Sungai Musi.
Pulau ini mempunyai legenda tentang kisah cinta Siti Fatimah putri Raja Palembang yang dilamar oleh Anak Raja China bernama Tan Bun Ann. Syarat yang diajukan Siti Fatimah pada Tan Bun Ann adalah menyediakan 9 guci berisi emas, keluarga Tan Bun Ann menerima syarat yang diajukan. Untuk menghindari bajak laut saat di perjalanan membawa emas dari negeri China maka emas yang didalam guci terebut ditutupi dengan asinan dan sayur, ketika kapal tersebut tiba di Palembang Tan Bun Ann memeriksa guci tersebut yang telah ditutupi asinan dan sayur, dengan rasa marah dan kecewa maka seluruh guci tersebut dibuangnya ke Sungai Musi, tetapi pada guci yang terakhir terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan sehingga terlihatlah kepingan emas yang ada di dalamnya.
Rasa penyesalan membuat anak Raja China tersebut mengabil keputusan untuk menerjunkan diri ke Sungai dan tenggelam. Melihat tersebut, Siti Fatimah ikut menerjunkan diri ke sungai sambil berkata \"Jika ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini maka disitulah kuburan saya\".
Di pulau ini terdapat sebuah kelenteng Budha yang selalu dikunjungi penganutnya terutama pada perayaan Cap Go Meh yang tidak hanya masyarakat keturunan Tiong Hoa di kota Palembang tetapi dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara seperti Singapura, Hongkong, RRC, dan lain-lain. Kita dapat ke pulau ini dengan menggunakan transportasi air seperti Ketek, Speed Boat, Kapal Wisata Putri Kembang Dadar, Sigentar Alam, dan Perahu Naga dari dermaga wisata Benteng Kuto Besak atau dari parbrik Intirub

 Bukit Siguntang

Daerah ini terletak di atas ketinggian 27 meter dari permukaan laut, tepat di Kelurahan Bukit Lama. Tempat ini sampai sekarang masih tetap dikeramatkan karena disini terdapat beberapa makam diantaranya :
  1. Raja Si Gentar Alam
  2. Putri Kembang Dadar
  3. Putri Rambut Selako
  4. Panglima Bagus Kuning
  5. Panglima Bagus Karang
  6. Panglima Tuan Junjungan
  7. Panglima Raja Batu Api
  8. Panglima Jago Lawang
Berdasarkan hasil penemuang pada tahun1920 di sekitar bukit ini telah ditemukan sebuah patung (arca) Budha bergaya seni Amarawati yang raut wajah Srilangka berasal dari abad XI masehi yang sekarang diletakkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Kita dapat melihat panorama kota Palembang dari ketinggian Bukit Siguntang dengan menempuh kendaraan umum jurusan bukit besar.